Rabu, 07 September 2016
"Tabel Keberuntungan" membawa Sejarah Semakin Bermakna
Hello Historian......
-biar tambah seru siswa yg sedang mengerjakan diberi stimulus tambahan nilai (5 nilai per kotak tabel) yg bisa dikerjakan di papan tanpa melihat buku atau lainnya
*hal ini bermaksud memacu siswa agar lebih cepat dlm mengerjakan tugas selain itu membantu siswa lainnya yg blm menemukan jawaban bisa melihat ke papan (manajemen waktu, penghargaan atas usaha dan kompetitif diajarkan dlm tahap ini)
Dalam seminggu ini ternyata muncul lagi inovasi baru biar PBM sejarah g itu2 selalu hehehe.
Kreasi hari ini yaitu mengklasifikasikan memahami dan menjelaskan materi dalam satu rangkaian kegiatan.
Kreasi hari ini yaitu mengklasifikasikan memahami dan menjelaskan materi dalam satu rangkaian kegiatan.
Inovasi ini saya beri nama "Tabel Keberuntungan"
Gimana sich caranya?
-melanjutkan inovasi sebelumnya ttg membuat paragraf KATA BERKAIT dengan materi yg sama maka siswa diminta untuk membuat tabel klasifikasi
-guru membuat tabel di papan kemudian meminta siswa mengisi tabel yg mereka buat di buku catatan dengan searching browsing atau reading dari beberapa sumber (1 jam pelajaran)
-melanjutkan inovasi sebelumnya ttg membuat paragraf KATA BERKAIT dengan materi yg sama maka siswa diminta untuk membuat tabel klasifikasi
-guru membuat tabel di papan kemudian meminta siswa mengisi tabel yg mereka buat di buku catatan dengan searching browsing atau reading dari beberapa sumber (1 jam pelajaran)
-biar tambah seru siswa yg sedang mengerjakan diberi stimulus tambahan nilai (5 nilai per kotak tabel) yg bisa dikerjakan di papan tanpa melihat buku atau lainnya
*hal ini bermaksud memacu siswa agar lebih cepat dlm mengerjakan tugas selain itu membantu siswa lainnya yg blm menemukan jawaban bisa melihat ke papan (manajemen waktu, penghargaan atas usaha dan kompetitif diajarkan dlm tahap ini)
Jumat, 02 September 2016
Liputan Kompas Tentang Konferensi Nasional Guru Quipper 2016 (Ada Pak Aries Lho)
Hello Historian......
Bagi dunia pendidikan, perkembangan teknologi bisa menjadi peluang maupun ancaman. Para pendidik mesti punya siasat khusus untuk mengendalikan kecanggihan teknologi dalam dunia belajar-mengajar.
Konselor pendidikan Itje Chodijah bahkan mengaku sempat resah dengan perkembangan teknologi. Kecanggihan teknologi dikhawatirkan membuat para pendidik menjadi cuek dan menganggap segala sesuatunya bisa diselesaikan dengan perangkat.
"Menghadapi ini, yang harus ditata adalah manusianya," tutur Itje Chodijah pada Konferensi Nasional Guru Quipper 2016 di AXA Tower Kuningan, Jakarta, Minggu (28/8/2016).
Presentasi Pemateri (Pak Aries) dalam Konferensi Nasional Guru Quipper 2016
Hello Historian......
Berikut saya bagikan presentasi dari pemateri dalam Konferensi Nasional Guru Quipper 2016 pada minggu 28 Agustus 2016 lalu
Berikut saya bagikan presentasi dari pemateri dalam Konferensi Nasional Guru Quipper 2016 pada minggu 28 Agustus 2016 lalu
Presentasi para pembicara yang hadir pada Konferensi Nasional Guru Quipper 2016
Hello Historian......
Berikut adalah presentasi para pembicara yang hadir pada Konferensi Nasional Guru Quipper 2016
Berikut adalah presentasi para pembicara yang hadir pada Konferensi Nasional Guru Quipper 2016
Email dari Takuya Homma Country Manager, Quipper Indonesia
Hello Historian......
Terima kasih banyak Anda telah meluangkan waktu untuk menghadiri acara Konferensi Nasional Guru Quipper 2016 pada 28 Agustus lalu (panduan acara dapat Anda lihat di (https://goo.gl/oEgFvu). Saya harap Anda menikmati dan menerima ilmu dari seluruh sesi yang disediakan, di antaranya seminar dan tanya-jawab dengan para pembicara yang inspiratif seperti Bapak Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd dan Ibu Dra. Itje Chodidjah, M.A, serta mengukur kesiapan Anda menjadi guru di era digital ini. Ada beberapa kutipan yang menurut saya sangat tepat dengan tema ini:
“Technology is just a tool. In terms of getting the kids working together and motivating them, the teacher is the most important - Bill Gates”
Teknologi hanya merupakan sebuah perangkat. Dalam mendukung siswa untuk dapat bekerja sama dan memotivasi mereka, peran guru tetap yang utama.
“Technology won't replace teachers, but teachers who use technology will probably replace teachers who do not.”
Teknologi tidak akan dapat menggantikan guru, namun guru yang mampu memanfaatkan teknologi akan sangat mungkin menggantikan guru yang tidak mampu.
|
Langganan:
Postingan (Atom)




