Hello Historian......
Rabu, 26 Agustus 2015
Senin, 03 Agustus 2015
Tragedi Tolikara: Intoleransi, Keterlibatan Asing dan Separatisme
Hello Historian......
Pada hari
Jumat 17 Juli pagi sekitar jam 7 WIT sekelompok massa menyerang umat Islam yang
tengah melaksanakan shalat Idul Fitri 1436 H di Distrik Karubaga, Kabupaten
Tolikara, Papua. Massa terus merangsek hendak membubarkan shalat Id. Meski
sudah dihalau oleh aparat keamanan, massa tetap menyerang bahkan kemudian
membakar kios-kios milik warga Muslim. Akhirnya, mereka pun membakar masjid dan
rumah-rumah warga Muslim.
Terkait
tragedi itu, setidaknya ada tiga hal yang harus diperhatikan dan diwaspadai
yaitu: intoleransi atas umat Islam, keterlibatan asing dan separatisme.
Intoleransi
Istilah “Islam Nusantara” Salah-Kaprah
Hello Historian......
Istilah “Islam Nusantara” atau “Islam Indonesia”
belakangan mencuat di masyarakat. Meski bukan istilah yang sama sekali baru,
istilah tersebut cukup menuai kontroversi seiring kontroversi tilawah al-Quran
di Istana Negara dengan menggunakan langgam Jawa beberapa waktu lalu.
Bagaimana sebetulnya kita mendudukkan istilah tersebut
menurut Islam? Apakah istilah itu sesuai atau bertentangan dengan Islam? Apakah
gagasan “Islam Nusantara” atau “Islam Indonesia” itu penting dan maslahat untuk
umat ataukah justru tidak penting dan bahkan berbahaya? Jika memang berbahaya,
di mana letak bahayanya?
Untuk memahami secara lebih jernih bagaimana sikap
kita seharusnya dalam merespon istilah dan gagasan “Islam Nusantara” atau
“Islam Indonesia, dalam rubrik Hiwar kali ini, Redaksi mewawancarai KH
Mushtafa Ali Murtadlo dari Lajnah Khusus Ulama (LKU) DPP Hizbut Tahrir
Indonesia. Berikut pandangannya.
Belakangan mengemuka gagasan untuk mengembangkan corak
“Islam Nusantara”. Bagaimana menurut Kiai?
Hanya Satu Islam...Tidak ada istilah Islam A atau Islam B
Hello Historian......
Wacana “Islam Nusantara” atau “Islam Indonesia”, yang
kini digembar-gemborkan kalangan elit intelektual, birokrat Kemenag, politisi
dan sejumlah tokoh ormas Islam sesungguhnya dibangun oleh paradigma Barat dalam
melihat Islam, namun dibuat seolah-olah pemikiran orisinil Indonesia.
Oleh Azyumardi Azra, Islam Nusantara didefinisikan
sebagai Islam distingtif sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi,
indigenisasi dan vernakularisasi Islam universal dengan realitas sosial, budaya
dan agama di Indonesia (http://fah.uinjkt.ac.id).
Sederhananya, menurut Ketum PBNU KH Said Aqil Siraj,
Islam Nusantara adalah gabungan nilai Islam teologis dengan nilai-nilai tradisi
lokal, budaya dan adat-istiadat di Tanah Air. Konsep Islam Nusantara
mensinergikan ajaran Islam dengan adat-istiadat lokal yang banyak tersebar di
wilayah Indonesia (Republika Online, 10/3/2015).
Langganan:
Postingan (Atom)